Hasyim dan Nasrul Abit Hadiri PelepasanLiaran Harimau

admin

Padang – Direktorat Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan melepasliarkan Dua ekor Harimau Sumatra pada Senin 29 Juli 2019.

Pelepasliaran kedua harimau yang diberi nama Bonita dan Atan Bintang direncanakan akan dihadiri Hashim Djojohadikusumo dan Nasrul Abit, Wakil Gubernur Sumbar, Bupati Dharmasraya dan KemenLHK. Bonita dan Atan Bintang dilepasliarkan bertepatan dengan 2 tahun usia PR-HSD yaitu 29 Juli 2019 dan Hari Harimau Internasional (International Tiger Day).

Berdasarkan informasi dari PR-HSD – YAD, bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kepada media, kedua satwa dilindungi yang memiliki nama latin Panthera Tigris Sumatrae itu, sejak satu tahun belakangan menjalani masa rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dhamasraya (PR-HSD), Yayasan Yayasan ARSARI Djojohadikusumo, Sumatera Barat.

Pada tahun 2018, Kedua “raja rimba” itu, merupakan satwa yang cukup mencuri perhatian publik. Seluruh media massa banyak mengangkat cerita mulai dari konflik hingga penanganan kedua harimau Sumatra itu. Kedua nya sama-sama memiliki cerita yang tak kalah menarik.

Bonita adalah Harimau Sumatra dewasa berjenis kelamin betina yang berhasil dievakuasi tim gabungan dari area perkebunan sawit blok 79 Afdiling IV kebun Eboni PT THIP, Desa Tanjung Simpang Kecamatan Pelangiran, Inhil, Riau pada 20 April 2018.

Bonita terpaksa diburu dan ditembak bius tim gabungan untuk mengantisipasi agar konflik antara kucing besar itu dengan manusia tidak meluas. Pasalnya sejak konflik muncul pada awal 2016, diduga kuat, Bonita sudah menewaskan 2 orang warga di Kabupaten Indragiri Hilir tepatnya di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran Riau.

Usai berhasil ditangkap, Bonita lalu dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dhamasraya (PR-HSD). Selama menjalani masa rehabilitasi, Bonita menunjukkan kondisi kesehatan yang terus membaik, begitu pun prilakunya yang juga baik. Saat ini Bonita dipastika dalam keadaan sehat.

Bahkan, berdasarkan pemeriksaan sampel darah telah dinyatakan bebas dari penyakit hewan menular sehinga
siap untuk dilepasliarkan.

Hasil pemeriksaan kondisi fisik terhadap Bonita oleh tim Dokter hewan, memastikan tidak menemukan adanya kelainan anatomis, sementara perilaku menunjukkan sikap agresif dan menghindar dari interaksi terhadap manusia.

Hasil pemeriksaan kimia
darah bernilai normal, walau terdapat peningkatan pada kadar kreatinin
dan globulin namun tidak menunjukan peningkatan yang signifikan.

Meski kesehatannya secara umum dalam kondisi baik, namun ada permasalahan dari hasil pemeriksaan gigi dan mulut dimana terdapat gigi yang hilang yaitu gigi taring kiri bawah, patah pada gigi taring kiri atas dan gigi taring kanan bawah.

Bagi seekor Harimau, gigi taring merupakan alat pertahanan diri yang sangat penting, namun dalam proses rehabilitasi
Bonita telah beradaptasi untuk bisa memangsa pakan hidup melalui
enrichment pakan yang diberikan.

Berbeda dengan Bonita, Atan Bintang merupakan harimau Sumatra berjenis kelamin jantan dengan usia 4 tahun. Sebelum dibawa ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dhamasraya (PR-HSD), Atan Bintang terjebak beberapa hari di bawah kolong rumah toko (ruko) di Pasar Pulau Burung, Kecamatan Pulau Burung Kabupaten Inhil, pada 15 November 2018.

Proses evakuasi terhadap Atan Bintang ini, cukup sulit karena kolong ruko semakin ke dalam semakin sempit dan terdapat
sebuah lorong kecil memanjang. Atan Bintang berhasil dibius di dalam
lorong tersebut dan dikeluarkan dari dalam lorong dengan membobol dinding pembatas lorong tersebut. kemudian ditandu untuk dimasukkan ke dalam kandang transport yang sudah disiapkan di luar ruko.

Pada 17 November 2018 sekira pukul 06.00 WIB Atan Bintang diangkut melalui jalur air dengan speed boat yang membutuhkan waktu sekitar 3 jam dan dilanjutkan dengan jalur darat dari Tembilahan menuju Dharmasraya selama lebih dari 20 jam. Tiba di PR- HSD pada tanggal 18 November 2018 pukul 08.00 WIB.

Di PR-HSD, Atan Bintang menjalani serangkaian tes kesehatan yang meliputi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium (darah, kimia darah dan feses), CDV Test kit, USG organ vital, gigi, jenis kelamin,
morfometri, dan berat badan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan saat itu, Atan Bintang mengalami Anemia Non-regeneratif yang diakibatkan ketidakseimbangan
nutrisi. Sebelum Atan Bintang menjalani program rehabilitasi, dilakukan
masa karantina selama 14 hari.

Pada masa karantina, Atan Bintang
menunjukkan kondisi kesehatan baik, nafsu makan bagus, dan perilaku agresif. Program rehabilitasi yang dilakukan untuk Atan Bintang terfokus pada observasi kesehatan, perilaku, dan perbaikan nutrisi.

Pada masa
rehabilitasi Atan Bintang sempat mengalami penurunan kesehatan berupa
gangguan pernafasan bagian atas.

Namun Setelah dilakukan treatment Atan
Bintang dinyatakan sembuh dan di lepas kembali ke enklosur. Kondisi harimau Atan Bintang secara umum sangat bagus dengan nafsu makan sangat baik dan memiliki perilaku yang sangat aktif di dalam enklosur. Atan Bintang siap untuk dilepas liarkan kembali ke alam.