Padang – Nasrul Abit Datuak Malintang Panai dikenal sebagai Bupati dan Wakil Bupati terlama di Sumatera Barat, selama tiga periode berturut-turut. Dimulai dari 2000-2005 menjabat sebagai wakil bupati Pessel, mendampingi Kolonel Inf. H Darizal Basir. Lalu, terpilih menjadi Bupati Pessel periode 2005-2010 berdampingan dengan Drs. H. Syafrizal, dan kembali dipercaya menahkodai Pessel menjadi Bupati periode, 2010-2015, guna menuntaskan bengkalai sebelumnya, dan berpasangan dengan Drs. H Editiawarman, MSi.

Tidak mudah untuk menyelesaikan dua periode mengemban amanah menjadi orang nomor satu di Pesisir Selatan. Kabupaten dengan jumlah 182 nagari dan 15 kecamatan itu. Namun bukan berarti tidak bisa, Kini Pessel terus bersolek. Sejumlah capaian fenomenal yang diraih membuktikan ‘lakek tangan’ seorang Nasrul Abit. Lakek tangan seorang anak nelayan yang sepicingpun tidak pernah bermimpi akan duduk dikursi empuk kekuasaan didaerah, menjadi seorang kepala daerah.

Pada tahun 1981, Nasrul Abit mengawali karirnya di Kantor Wilayah Kesehatan Provinsi Lampung sebagai PNS golongan II, membuat perjalanan karirnya penuh liku. Kehidupan pahit yang dilakoninya membuat ia tahan banting, sebelum menjadi PNS golongan rendahan, berbagai kerja serabutan ia lakoni, mulai jadi tukang batu hingga tukang jahit, bahkan sempat pula mencoba peruntungan diganasnya ibukota. Namun, takdir menuntunnya untuk mengabdi dikampung halaman.

Suatu ketika ditahun 1999, datang desakan dari sejumlah tokoh IKPS di Bandar Lampung, supaya bersedia mendampingi H. Darizal Basir yang akan melanjutkan kepemimpinan di Bumi Pesisir Selatan, untuk periode keduanya. Semula, Nasrul Abit ragu, karena karir PNS yang dibinanya sedang menanjak. Karir yang dibangunnya dengan semangat dan kerja keras, maka tidak mudah untuk menimbangnya.

Kala itu, ia menanyai hati sanubari istri dan anak-anaknya, amak dan ayahnya di Air Haji serta orang-orang yang selama ini menyokong karir dan kehidupannya, termasuk Ali Umar, Mamak Kandungnya yang selama ini menampung keluhkesah dan parasaiannya.

Melalui perenungan yang mendalam akhirnya, tawaran itu diterima kendati dengan perasaan campur aduk. Tidak sepicingpun ia pernah membayangkan akan menjadi seorang wakil bupati. Tetapi, Almasri, seorang tokoh IKPS yang saat itu bertugas sebagai Asisten Pemerintahan di Kantor Gubernur Lampung justru menilai lain. Sosok Nasrul Abit merupakan talenta yang punya bakat kepemimpinan yang luar biasa. Sedari awal Almasri mengamati sepakterjangnya, baik ditataran birokrasi maupun sosial kemasyarakatan.

Nasrul Abit mampu dan sukses mengendalikan sejumlah proyek besar, pembangunan rumah sakit disejumlah kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Kepiawaiannya dalam menghidupkan organisasi sosial seperti IKPS, IKML, Pelti, kala itu, serta Kemampuannya membangun komunikasi dengan berbagai pihak menjadi faktor kunci bahwa ia sosok yang tepat untuk dipasangkan dengan H Darizal Basir. Tidak berlebihan jika sosok Nasrul Abit menjadi ‘ruh’ organisasi, menurut Erizal, kawasan sepermainnya di Lampung, kini bertugas sebagai Kepala Bidang, di Dinas Sosial dan Tenagakerja Pesisir Selatan, bahwa sosoknya membuat organisasi hidup dan bersemangat, banyak ide yang keluar dan semunya bisa dilaksanakan.

Bupati Nasrul Abit memang punya banyak ide cemerlang. Kabupaten Pesisir Selatan berhasil keluar dari status daerah tertinggal, menjadi salah satu ide yang lantas diiringi dengan kerja nyata dan kesungguhan. Dengan APBD yang terbatas, tentu tidak banyak yang bisa dikerjakan terutama untuk membangun berbagai sarana dan infrastruktur. Tapi bukan berarti tidak bisa, APBD Pessel 67 persen habis untuk membayar gaji dan kebutuhan belanja aparatur, sedikit saja yang bisa dialokasikan untuk belanja publik, namun, soal kreatifitas dan ide maka berkat dukungan SKPD sejumlah proyek mercusuar bisa dilaksanakan.

Langkahnya, setiap SKPD ‘wajib’ menjuluk anggaran APBN untuk ditempatkan di Pesisir Selatan. Al hasil, jalan mulus terbentang dari Padang hingga ke Lunang, jalan kabupaten yang semula hanya 1200 km, kini naik dua kali lipat, megaproyek Bendungan Batang Tarusan, Reklamasi Pantai Carocok, Pembangunan Pelabuhan Panasahan, Relokasi RSUD M. Zein Painan, Pengembangan Kawasan Mandeh menjadi Taman Nasional Laut, Swasembda pangan yang terus terjaga, Irigasi yang makin memadai, Bantuan/hibah kepada nelayan, terbukanya akses Bayang-Alahan Panjang dan banyak lagi, termasuk angka melek huruf, merupakan sebagian kecil dari kreativitas itu.

Pada awal 2007, Pemkab Pessel melakukan pendataan langsung kekantong-kantong nagari yang angka buta hurufnya tinggi, dan menemukan penyebabnya. Ternyata, salah satu alasan anak-anak Pessel tidak mau sekolah, karena memang soal biaya pendidikan yang belum terjangkau. Disamping, keengganan untuk sekolah karena pemahaman orang tua yang salah. Lalu, pemerintah daerah mengambil kebijakan seluruh anak usia sekolah, wajib sekolah, dan pemda membebaskan biaya sekolah serta memberikan bantuan peralatan sekolah, sepatu, baju dan buku secara gratis.

Sebagian besar pembangunan di Pessel disokong anggaran yang bersumber dari APBN atau APBD Provinsi. Hal ini memang dilakukan dengan pendekatan komunikasi yang intensif dan kontruktif. Artinya, kepala SKPD harus rajin memelihara komunikasi dan mencari informasi terkait program dan kegiatan yang ada dikementerian dan SKPD Provinsi.

Dua langkah visioner seorang Nasrul Abit akan menjadi catatan sejarah, pertama, soal ajakan untuk sekolah dan pendidikan gratis sehingga Kabupaten Pesisir Selatan kini bebas buta huruf, bahkan anak-anak Pesisir setiap tahun bisa masuk perguruan tinggi negeri favorit dalam jumlah besar. Kedua, terkait pemekaran nagari, pada tahun 2001 jumlah nagari di Pessel hanya 37 nagari, namun pada tahun 2010 jumlah nagari menjadi 182. Pro dan kontra muncul terkait pemekaran ini, ada sejumlah pihak yang risau akan terjadi pemekaran institusi adat, namun setelah dijelaskan bahwa yang mekar itu hanyalah administrasi pemerintahan nagari, semua pihak baru paham. Pada tahun 2013, DPD RI mengusulkan RUU tentang Desa dan kemudian pada tahun 2014 lahirlah UU Desa. Salah satu substansinya menyangkut anggaran desa/nagari yang makin prospektif untuk pengambangan kehidupan dinagari. Pessel maju selangkah lebih jauh, karena Pessel akan menjadi salah satu kabupaten yang akan menerima anggaran bantuan desa/nagari terbesar di Sumatera Barat.

Kini, terkait langkah politik, Nasrul Abit kedepan, apa dan bagaimana, tetapi yang jelas banyak kalangan yang mendukung agar terus melakukan karya dan pengabdian. Nasrul Abit, Pengabdian Tiada henti.(*)