Nasrul Abit Siap Bantu Pengembangan Ekonomi Nelayan Lobster di Mentawai

admin

MENTAWAI – Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit memastikan, jika potensi perikanan dan kelautan di Kepulauan Mentawai di garap dengan serius. Sehingga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Untuk itu, Nasrul Abit mengimbau kepada seluruh Nelayan untuk dapat membantu Pemerintah menjaga kelestarian ekosistem laut.

Nasrul Abit menilai, salah satu potensi yang dilirik banyak pengusaha yang bergerak disektor perikanan dan kelautan adalah lobster di kepulauan Mentawai. Berdasarkan hasil peninjauan selama tiga hari, 19 hingga 21 Desember 2020 dibeberapa titik di Kepulauan Mentawai, Nasrul Abit melihat ekosistem lobster, masih terjaga dengan baik.

Masyarakat yang tinggal di beberapa desa di daerah itu , mengambil potensi laut untuk menyambung hidup masih dengan cara tradisional. Lobster jug berkembang baik di perairan tersebut.

“Ini sebenarnya peluang yang baik untuk kita meningkatkan perekonomian masyarakat nelayan terutama yang ada di Kepulauan Mentawai. Apalagi mengingat Mentawai masih dalam status daerah tertinggal. Potensi ini, harus dikelola dengan baik. Tentu harus mengacu kepada regulasi. Agar tidak bertentangan dengan aturan perundang-undangan atau aturan lain yang mengikat,” kata Nasrul Abit, Selasa 22 Desember 2020.

Dalam waktu dekat, Nasrul Abit bersama pihak terkait berencana melihat langsung ke Kabupaten Pangandaraan, Jawa Barat. Di daerah tersebut terdapat budidaya lobster yang baik. Pemerintah daerahnya juga melindungi potensi lautnya. Nasrul ingin masyarakat Mentawai dapat merasakan pengelolaan lobster dengan baik. Ekonominya secara bergerak naik, namun lingkungan tetap terjaga.

“Kita akan pelajari bagaimana mengelola lobster dan ekosistemnya. Karena, potensinya di Mentawai sangat bagus dan harus bermanfaat dalam jangka panjang,” ujar Nasrul Abit.

Selanjutnya, Nasrul Abit juga mengimbau kepada seluruh perusahaan untuk tidak mengeruk kekayaan laut dengan cara-cara yang kurang baik. Harus juga mempertimbangkan dan memikirkan nelayan tradisional yang memang hidupnya bergantung kepada laut. Jika ingin eksplore kekayaan laut dengan fasilitas yang mumpuni, dianjurkan untuk tidak pada wilayah yang sama dengan nelayan tradisional.

“Kita harus bisa sama-sama bekerja sama. Yang besar (perusahaan) jangan pula ambil kekayaan laut dekat dengan pulau tempat tinggal nelayan tradisional. Mereka juga butuh makan. Apalagi, mereka ke laut dengan cara tradisional dan dengan alat sederhana. Semua punya hak mengambil keuntungan di laut. Namun, harus mempertimbangkan beberapa aspek, termasuk nelayan-nelayan tradisional,”tutup Nasrul Abit.(*)