PADANG — Ketika Nagasaki dan Hiroshima luluh lantak oleh bom atom Amerika Serikat dan sekutu, Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jendral yang masih hidup dan bertanya kepada mereka tentang jumlah guru yang tersisa. Begitu berharganya guru bagi Jepang. Begitu juga bagi Nasrul Abit. Karena guru, dia bisa seperti sekarang ini.

“Saya pernah putus sekolah. Karena guru menyuruh saya sekolah kembali, saya bisa seperti ini,” kata Nasrul Abit mengenang besarnya jasa guru baginya.

Karena jasa gurulah Nasrul Abit yang dulu pernah putus sekolah bisa mengubah nasib dengan memulai karirnya dari PNS, wakil bupati, bupati, dan wakil gubernur.

Rabu (25/11) bertepatan dengan hari guru nasional ke-75. Namun, masih banyak guru yang bernasib memprihatinkan, terutama guru honor.

“Tanpa belajar dari guru kita tidak bisa apa-apa. Insyaallah saya akan mensejahterakan guru,” ucap Nasrul Abit.

Diceritakan, dulu Nasrul kecil pernah putus sekolah dan disuruh kembali sekolah oleh gurunya yang bernama Ramli. Ramli merupakan kepala sekolah dan guru mengaji Nasrul Abit.

“Pak Ramli menyuruh saya sekolah kembali setelah putus sekolah. Dulu kami mengaji tinggal di rumah guru. Beliau kepala sekolah sekaligus guru mengaji. Beliau bilang kepada saya untuk lanjutkan sekolah. Waktu itu saya sekolah kembali kelas enam SD, padahal saya sudah tiga tahun tidak sekolah, yakni tahun 1967, 1968 dan 1969 saya masuk lagi,” ucapnya.

Perjuangannya untuk bersekolah tidak berjalan mulus. Namun, berkat bantuan dari guru-gurunya, Nasrul Abit bisa menyelesaikan sekolah.

“Saya juga dibantu Ibuk Juriah. Beliau yang mengajarkan saya berhitung dan rumus matematika. Kemudian, saya masuk ST. Saya sangat berkesan kepala sekolah kami, Bapak Haji Muhammad Dinar. Disiplinnya sangat luar biasa,” tutur Nasrul Abit mengingat kembali gurunya.

Selesai menempuh pendidikan di ST, Nasrul Abit melanjutkan sekolah di SLTA hingga menyelesaikan perkuliahan. Banyak pesan yang disampaikan guru kepada Nasrul Abit.

“Pesan guru yang sangat saya ingat itu soal kedisiplinan. Orang tanpa disiplin tidak akan berhasil. Saat kuliah dosen saya mengatakan ambil satu bidang dan tekuni bidang itu,” ujarnya.

Tak mudah perjalanan hidup Nasrul Abit, karena saat sekolah dia juga harus menghidupi diri sendiri. Bahkan, dia rela menjual batu cincin untuk mendapatkan uang untuk sekolah.

“Kami dari keluarga miskin. Jadi, saya harus mencari cara agar tidak membebani orang tua. Saya cari batu di Ujung Tanjung (daerah pinggir pantai Pancung Soal Pesisir Selatan) saya jual ke Padang,” katanya.

Nasrul Abit Akan Sejahterakan Guru

Peran guru dalam karir Nasrul Abit cukup besar. Karena itu, dia bertekad mensejahterakan guru.

Calon gubernur Sumbar itu telah menyiapkan beberapa program untuk mensejahterakan sekitar 7.300 guru honor yang belum jelas nasibnya.

“Insyaallah jika saya terpilih saya akan sejahterakan guru,” ujarnya.

Nasrul Abit akan memberikan ruang seluas-luasnya kepada guru honor untuk tes CPNS. Jika guru honorer tidak lulus CPNS, ia akan mengangkatnya menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja.

“Jika usia mereka telah lebih dari 40 akan diberikan gaji UMR atau UMP dan asuransi. Ini bentuk terima kasih kita kepada guru. Merekalah yang mencerdaskan anak bangsa. Terima kasih kepada semua guru,” tuturnya.(*)